Sony Japan Studio Ditutup Karena Pasar Game Double-A Menghilang?
Sony Japan Studio, salah satu pengembang game legendaris dari Jepang, resmi ditutup pada 1 April 2021 lalu. Keputusan ini diambil karena pasar game double-A semakin sulit bertahan, kurang lebih seperti ungkap mantan eksekutif PlayStation, Shuhei Yoshida.
Dalam sebuah wawancara di podcast Sacred Symbols, Yoshida menjelaskan bahwa perubahan strategi bisnis Sony lebih berfokus pada game triple-A sehingga meninggalkan banyak proyek dari Japan Studio di belakang.
Mengapa Sony Menutup Japan Studio?

Japan Studio merupakan rumah bagi beberapa IP ikonik seperti Ape Escape, Gravity Rush, dan Knack. Namun, menurut Yoshida, pasar game telah berubah drastis. Game live-service dan game triple-A menjadi prioritas utama PlayStation, sementara game double-A — kategori yang menjadi spesialisasi Japan Studio — perlahan menghilang.
Selama masa jabatannya, PlayStation kesulitan menciptakan game live-service yang sukses. Satu-satunya judul yang benar-benar mencapai level triple-A adalah Gran Turismo. Sementara itu, game indie terus berkembang pesat dan menciptakan ruang kompetisi baru yang membuat game double-A semakin sulit untuk mendapatkan tempat di pasar.
Gagalnya Konsep Baru Setelah Gravity Rush 2
Setelah perilisan Gravity Rush 2, Keiichiro Toyama, direktur di Japan Studio, mengajukan konsep baru kepada Sony. Namun, ide tersebut tidak mendapat persetujuan karena tidak sesuai dengan fokus perusahaan yang semakin mengarah ke game dengan anggaran besar dan skala global. Akibatnya, Toyama memutuskan untuk meninggalkan Sony dan membangun studio independennya sendiri, yang kemudian menghasilkan Slitterhead.
Keputusan tersebut mencerminkan pergeseran besar yang terjadi pada strategi Sony PlayStation. Jika sebelumnya mereka mendukung berbagai eksperimen kreatif dari studio internal, kini mereka lebih selektif lagi dalam memilih proyek yang memiliki potensi sukses besar di pasar global.
Penutupan Sony Japan Studio tidak hanya membuat Sony PlayStation kehilangan potensi besar, tetapi juga bagi industri game Jepang secara keseluruhan. Banyak penggemar melihat ini sebagai tanda menurunnya pengaruh Jepang dalam strategi PlayStation, yang kini lebih fokus pada pasar Barat.
Meski demikian, warisan Japan Studio masih hidup di beberapa proyek lain. Contohnya, Ratatan, yang merupakan sekuel spiritual dari Patapon, yang masih dikembangkan oleh mantan staf Japan Studio di luar Sony. Kejadian ini menunjukkan bahwa meskipun studio telah dibubarkan, kreativitas dan inovasi para pengembangnya masih tetap berlanjut.
Apa yang Bisa Dipelajari dari Kasus Ini?

Dari kasus Sony Japan Studio ini kita jadi tahu bahwa tidak semua kategori game dapat bertahan dalam perubahan pasar. Sementara game indie berkembang dan game triple-A menjadi prioritas utama, game double-A kini mulai kehilangan tempatnya.
Bagi para penggemar, keputusan Sony ini tentu saja sangat mengecewakan, terutama bagi mereka yang menyukai game dengan pendekatan unik seperti Gravity Rush dan Ape Escape. Akan tetapi, hal ini juga membuka peluang bagi para pengembang untuk berkarya secara independen, seperti yang dilakukan oleh Keiichiro Toyama.
Ke depannya, masih ada harapan bahwa proyek-proyek dengan semangat Japan Studio akan tetap hidup, meskipun tidak lagi berada di bawah naungan Sony. Bagaimana menurut kamu? Apakah Sony seharusnya tetap mempertahankan Japan Studio, atau memang ini merupakan keputusan yang tepat untuk mengikuti perkembangan pasar?
Sumber: VGC