Berita

Game Live Service Kuasai 40 Persen Waktu Bermain di Console, Apa Dampaknya bagi Industri?

Industri game sedang mengalami transisi besar. Berdasarkan data terbaru dari Mat Piscatella dari Circana, lebih dari 40 persen total waktu bermain di PS5 dan Xbox Series X/S di Amerika bulan lalu dihabiskan hanya untuk 10 game live service teratas. Tidak hanya itu, lebih dari 70% pemain aktif di platform tersebut setidaknya memainkan satu dari game-game ini.

Tren ini menunjukkan bahwa game live service semakin menguasai ekosistem gaming, menimbulkan tantangan besar bagi developer dan publisher yang ingin memasuki pasarnya yang kian kompetitif.

Mengapa Game Live Service Begitu Mendominasi?

game live service

1. Model Gratis dan Berbasis Mikrotransaksi

Banyak game live service menggunakan model free-to-play, menarik pemain dengan akses gratis, lalu mempertahankan mereka melalui mikrotransaksi, battle pass, dan konten berkelanjutan. Contohnya adalah Fortnite dan Call of Duty: Warzone, yang menawarkan experience tanpa mengeluarkan biaya awal, tetapi menghasilkan pendapatan besar dari item kosmetik dan langganan premium.

2. Konten Berkelanjutan dan Update Rutin

Game live service bisa dibilang merupakan platform yang terus berkembang karena menyuguhkan pembaruan berkala, event musiman, dan ekspansi baru yang membuat pemain terus kembali. Jika dibandingkan dengan game single-player yang memiliki akhir yang jelas, game live service menawarkan konten yang terus berjalan tanpa batas waktu.

3. Komunitas yang Solid dan Interaksi Sosial

Elemen sosial dalam game live service juga menjadi daya tarik utamanya. Kita dapat membentuk clan, bergabung dengan teman-teman, atau bahkan menonton streamer favorit memainkan gamenya. Faktor ini menciptakan keterikatan emosional yang sulit dilepaskan yang membuat pemain lebih cenderung menghabiskan waktu pada game yang sudah mereka kenal.

Dampak bagi Developer dan Publisher Game Baru

1. Persaingan Semakin Ketat

Meskipun industri game terus berkembang, jumlah pemain dan waktu bermain tidak bertambah secara signifikan sejak puncaknya di tahun 2021. Dengan lebih dari 40 persen waktu bermain tersedot oleh 10 game yang sama, developer yang merilis game baru menghadapi tantangan berat dalam menarik perhatian gamer.

2. Inovasi Bisa Tertahan

Dominasi game live service bisa berdampak pada kreativitas industri. Publisher besar mungkin lebih memilih mengembangkan game dengan model serupa daripada mengambil risiko pada konsep baru. Hal ini berpotensi memperlambat lahirnya inovasi yang benar-benar segar.

3. Dampak pada Harga dan Monetisasi

Semakin banyaknya game yang mengadopsi model live service, gamer pun jadi semakin terbiasa dengan akses gratis atau biaya awal rendah. Sehingga membuat game berbayar dengan harga penuh harus bekerja lebih keras untuk membuktikan value-nya di mata konsumen.

Apakah Industri Akan Berubah?

game live service

Menurut Piscatella, ada kemungkinan bahwa tren ini bisa berubah dengan hadirnya konsol generasi baru dan rilis game AAA besar tahun ini. Misalnya, Nintendo Switch 2 berpotensi mengubah dinamika pasar, sementara game blockbuster seperti Grand Theft Auto VI bisa kembali menarik perhatian gamer ke game single-player yang lebih tradisional.

Selain itu, para developer mungkin harus beradaptasi dengan strategi pemasaran dan monetisasi baru, termasuk memanfaatkan pendekatan hybrid antara live service dan experience naratif yang lebih kaya.

Adaptasi adalah Kunci

Dominasi game live service di industri game tidak bisa diabaikan begitu saja. Developer dan publisher yang ingin tetap relevan harus mencari cara untuk bersaing di tengah keterbatasan waktu bermain yang tersedia. Apakah itu melalui inovasi dalam model bisnis, eksplorasi genre baru, atau menggabungkan elemen live service ke gamenya.

Jika kamu seorang gamer, bagaimana pendapat kamu tentang tren ini? Apakah kamu lebih memilih game live service atau masih menikmati game single-player tradisional?