Epic Games Digugat! Item Shop Fortnite Dituduh Memicu FOMO dan Menyesatkan Pemain
Epic Games, pengembang di balik game battle royale populer Fortnite, baru saja digugat oleh sepasang orang tua di Amerika Serikat. Penyebabnya? Item Shop Fortnite dianggap menyesatkan dan memicu FOMO (Fear of Missing Out) pada player, terutama anak-anak di bawah umur.
Gugatan ini diajukan di pengadilan San Francisco dengan klaim bahwa sistem Countdown Timer dalam Item Shop menciptakan “ilusi kelangkaan”, yang mendorong pemain untuk membeli item secara tergesa-gesa. Lebih parahnya lagi, item yang disebut-sebut “terbatas waktu” ternyata tetap tersedia dengan harga yang sama bahkan setelah timer berakhir.
Benarkah sistem Item Shop ini merupakan bentuk manipulasi psikologis? Bagaimana tanggapan Epic Games terhadap tuduhan tersebut? Mari kita kupas lebih dalam kontroversi yang sedang ramai diperbincangkan ini.
Ilusi Kelangkaan yang Menyesatkan?

Gugatan yang diajukan oleh dua orang tua ini menyoroti cara kerja Item Shop Fortnite. Menurut laporan tuntutan, sistem yang diterapkan oleh Epic Games secara sengaja menciptakan tekanan psikologis pada pemain, khususnya mereka yang masih di bawah umur.
Konsep utama yang dipermasalahkan dalam gugatan ini adalah “ilusi kelangkaan” yang dikemas melalui fitur Countdown Timer. Secara teori, fitur ini seharusnya membuat item hanya tersedia untuk waktu tertentu, sehingga mendorong pemain untuk segera membelinya sebelum kehabisan. Namun, kenyataannya, setelah timer berakhir, item tersebut tetap tersedia dan bahkan tetap didiskon.
Menurut penggugat, praktik semacam ini menyesatkan dan melanggar hukum perlindungan konsumen, karena memanfaatkan trik psikologis agar pemain merasa tertekan untuk melakukan pembelian impulsif.
Di berbagai forum dan media sosial, beberapa pemain mengakui bahwa sistem Countdown Timer memang membuat mereka berpikir bahwa itemnya akan benar-benar hilang setelah waktunya habis. Namun, ketika mengetahui bahwa item tersebut masih tersedia setelahnya, mereka merasa tertipu dan kecewa.
Di sisi lain, ada juga yang menilai bahwa gugatan ini terlalu berlebihan. Mereka berpendapat bahwa pemain—termasuk anak-anak—seharusnya tetap bertanggung jawab atas keputusan mereka dalam berbelanja, dan orang tua memiliki peran penting dalam mengawasi aktivitas anak-anak mereka saat bermain game.
Epic Games Membela Diri

Menanggapi tuduhan ini, Epic Games tidak tinggal diam. Seorang juru bicara perusahaan menyatakan bahwa gugatan tersebut mengandung kesalahan fakta. Menurut perwakilan Epic Games, mereka sudah mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa pembelian di game Fortnite lebih transparan dan tidak mengeksploitasi pemain, terutama anak-anak. Beberapa langkah yang telah diambil antara lain:
- Menghapus Countdown Timer di Item Shop sejak tahun lalu guna menghindari tekanan pembelian impulsif.
- Menyediakan perlindungan untuk pembelian tidak disengaja, termasuk opsi refund jika pemain merasa membeli sesuatu secara tidak sengaja.
- Menambahkan kontrol orang tua untuk akun pemain di bawah 13 tahun, yang mewajibkan persetujuan orang tua sebelum melakukan transaksi dengan uang sungguhan.
Meskipun demikian, Epic Games tetap bersikeras bahwa mereka tidak melanggar hukum dan akan mengajukan banding untuk melawan gugatan ini di pengadilan.
Sumber: Gamebrott